Persembahan Kami

Rabu, 09 Januari 2013

Angka dan Kata. Apa Kata Angka?



Sudah cukup lama juga tak berbagi cerita di blog ini. Beberapa diantaranya, karena kesibukan pekerjaan baru dan mengurusi media otomotif dan komunitas baru.

Saya sedikit cerita. Dulu itu saya palinglah anti angka, metric, tabel, dan macam golongan itu. Saya lebih suka kata ketimbang angka.Tapi nasib kadang sering mempertemukan dengan apa yang kita tidak sukai. Sering sekali.

Bagi saya, angka itu membingungkan dan bagi IQ yang tidak pintar dalam menghadapi angka, itu akan sangat menjemukan.

Tapi tahukah pembaca sekalian,…

Kali ini pekerjaan saya selalu membaca hasil campaign berupa angka persen atau pun dolar. Membaca tabel, grafik, metric. Itu semua harus disenangi. Dan sekarang saya cukup senang menghadapinya.

Dan tahukah anda,..
Ternyata angka itu akan dapat mencetak banyak kata melalui proses analisa lho. Dan itu yang sedang saya pelajari sekarang. Anda punya pandangan lain soal ini?

(Jakarta,@ Biind Media)

Semangat revolusi galau

Jumat, 07 Desember 2012

Tentang Sampah Tisu

Saya buru-buru pagi itu.

Ah.. Bangun kesiangan jadi penyakit lama saya karena tidur yang terlalu malam. Akhirnya tiba juga di di kawasan Slipi, Jakarta Barat

Gedung perkantoran ini terdiri dari kurang lebih 20 lt dan terdiri dari puluhan perusahaan nasional dan asing. Eits..Tiba di muka gedung, saat say berada di muka gedung saat ketika  akan masuk pintu gedung, salah seorang  satpam yang tengah menjaga pintu masuk kendaraan berteriak menghardik pada sebuah mobil berwarna metalik yang baru saja keluar gedung. Penasaran dengan teriakan itu, lantas saya berhenti sejenak mengamati mobil yang meluncur dan sang satpam.

Bukan tertabrak atau terserempet mobil, ternyata dikarenakan satpam yang sedang jaga di gerbang itu teriak kesal pada mobil berwarna silver yang membung tisu sembarangan, parahnya di buang dekat posisi satpam berdiri. selain itu, dibayangkan sangat terlihat "angkuh" sekali membuang sampah, meski hanya sehelai tisu dari dalam mobil.

Tak lama setelah teriakan satpam pada si pengendara mobil itu, mengalah satpam itu memungut sampah karena terlihat mengotori areal gedung yang sudah nampak bersih rapih oleh petugas kebersihan.

Selasa, 31 Juli 2012

Adakah rekan-rekan di pengumuman? kalau ada selamat


BPI baru saja melansiir para pemenang event blogger tempat makan favorit. Berikut nama-nama pemenangnya
 Atau lebih jelasnya 
Adakah nama rekan-rekan disini? andai ada selamat, andai tidak, jangan berkecil hati, tetap bersemangat dan bersyukur selalu.

Event blogger akan tetap hadir dan akan lebih interaktif, sebagai bocoran event untuk bulan agustus ini akan bertajuk "Tantangan #Kreatif30K Blogger" untuk itu bisa follow @Kreatif_30K dan tambahkan Akun GPlus BPI  yang akan jadi media interaksi. Jika dalam event lalu ada "Lounge Event Tempat Makan Favorit" maka BPI juga akan membuat postingan bertajuk "Bengkel Kreatif_30K Blogger" di Official blog BPI sebagai media centre.

Semoga infonya bermanfaat
sukses selalu
salam bahagia
 
Semangat Revolusi Galau

Senin, 30 Juli 2012

Bagaimana kalau kita namakan ini Mall?

Suka belanja atau shopping? Tentu, terlebih kalangan perempuan. Saya harus katakan kota Jakarta penuh dengan Mall-mall besar, mewah dan lengkap tapi terhitung kalau saya sendiri bertahun-tahun selama merantau di Jakarta tak pernah pulang ke kosan membawa kantong belanja. Sudah bisa di tebak kalau saya hanya jalan-jalan atau ada event yang tempatnya di Mall.hehe…

Hampir seluruh Mall dengan kelas Lux hampir saya pernah singgahi, tapi tak satu pun saya belanja atau bahkan makan, jarang sekali rasanya. Tapi mari saya ajak dengan satu gambaran khas.  Edisi ruang kota kali ini, saya sajikan sebuah pict dan cerita tentang mall ala masyarakat menengah bawah, ya.. mari kita belanja di “pasar kaget “ sebuah pasar yang tiba-tiba ada.

Saya tidak menyebut pasar kaget ini bagian dari masyarakat kecil, dan mall untuk  adalah mesyarakat atas. Tapi apalah arti pusat perbelanjaan atau mall jika kita tak ada interaksi berbelanja, ya, sepertihalnya saya ini. Tapi lain halnya kalau kita mampir ke pasar kaget banyak yang bisa kita beli dan bawa pulang, dengan uang goceng saja makanan atau barang bisa kita dapatkan disini.

Pasar kaget dekat kostan saya selalu ada tiap hari minggu malam senin. Jadi sepanjang jalan gang Kenari 2 berderet pedagang dadakan, itu kenapa mungkin dinamakan pasar kaget atau ada juga yang bilang pasar malam.

























Kota Jakarta sudah begitu penuh dengan mall-mall mewah. Apalagi jika dibandingkan dengan kampung saya, disini amat begitu banyak. Tapi apalah artinya jika itu akhirnya tak membuat masyarakat dapat menjangkau.

Satu pusat perbelanjaan yang lengkap ada di pinggiran jalan, lengkap mulai dari barang, makanan hingga permainanan anak-anak itulah pasar kaget.  Yang terpenting dari itu semua adalah  murah dan terjangkau. Bukankah jika kita ke mall atau pusat perbelanjaan hakikatnya adalah shopping berbelanja. Karena pasar kaget merupakan pusat belanja favorit masyarakat, Nah, bagaimana kalau kita namakan juga dengan Mall.

Hehee
(postingan yang dirasa cukup tidak  penting)

Semangat
Revolusi galau




Minggu, 08 Juli 2012

Pesan Tembok Agar Kita Tetap "waras"


Pagi saat kaki melangkah, mata tiba-tiba tertuju pada tembok yang rasanya baru di gambar dengan pesan yang mewakili masyarakat kota, khususnya Jakarta yang sedang ramai punya hajat Pilkada.
Apa Gambar itu? Saya tertarik untuk mengabadikan dan membagikannya untuk pembaca sekalian.









Lokasi gambar diambil di kawasan Stasiun Cikini, Menteng-Jakpus. Lokasi in hampir tembok-tembok gambari oleh mural yang berisikan pesan layanan masyarakat. Hampir setiap hari saya berjalan melewati jalanan ini.

Saya menilai, ini merupakan pesan tembok yang mewakili masyarakat kota yang ingin rumitnya kota ini tak ditambah dengan semrawut dan kotornya wajah ibu kota spanduk, pemflet, poster, dll yang membuat kota kian berwajah “kotor”.

Yang penting dari gambar di tembok juga  ialah pesan untuk memilah unsur-unsur yang “kotor” dan membuangnya ke tempat sampah. Harus diingat bahwa banyak hal “kotor” terjadi tinggal apakah kita mau menerima itu mentah-mentah atau kita buang pada tempatnya. Masa kampanye sudah berakhir, tinggal beberapa hari lagi menuju pemungutan suara untuk Jakarta 1dan 2.

Semoga kita semua  masih “waras” dengan dihadapkan oleh persoalan bentuk yang sudah beragam kepentingan ada didalamnya. 

Semoga postingan (ngelantur,hehe) dan foto yang tidak terlalu baik yang saya ambil dengan kamera HP  ini bermanfaat.

Semangat 
Revolusi Galau

Kamis, 28 Juni 2012

Dari kuliner yang Paling Indonesia , Saya Mulai Belajar Nasionalisme

Waktu menunjukan pukul 10 malam, sepulang dari kantor perut terbiasa minta diisi. Kebiasaan saya makan malam adalah pukul 7 malam di angkringan nasi kucing dekat kantor atau sepulang dari kantor di dekat kostan saya.  Untuk makan di angkringan, saya baru-baru ini sering makan ditempat  itu. Rasanya unik sekali memang, mulai dari tempatnya hingga menunya yang khas yogya. Andai saya tak makan pun, bersama rekan kerja saya sempatkan nongkong di situ untuk minum susu jahe.

Sedikit soal susu jahe, minuman ini khas sekali rasanya. Dibuat dari air jahe, di beri gula merah dan tambahan susu menjadi minuman favorit saya. Salah satu khasiatnya, saya yang langganan masuk angin merasakan jarang masuk angin, hehe (maklum badan saya dagingnya  tipis alias kurus).

Inilah susu jahe yang khas, harganya Rp 3000, pas.
Suasana temaram di warung angkringan. kebnyakan pembeli yang saya temui adalah para pekerja yang baru pulang kantor atau juga para supir taksi
Letak warung angkringan di samping Fly Over di kawasan Slipi Jaya, dekat dengan kantor
Berhubung tadi sore hanya minum susu jahe, maka setibanya di kostan saya pun lagsung menghampiri  deretan pedagang makanan di dekat kostan. Lokasi Kostan saya merupakan kawasan kostan yang cukup ramai baik para mahasiswa maupun para pekerja yang mencari peruntungan di kota Jakarta ini.  Maka setiap malam aka nada banyak pedagang makanan yang berbaris tepatnya didepan museum MH Tamrin, tak jauh dari gang kostan saya.
Diantara banyak pedagang itu, hanya beberapa menu yang sering saya beli kalau tidak ketoprak, ya soto Surabaya dan sate. Diantara itu, saya paling suka Sate Madura. Malam inipun saya membungkus pulang Sate, salah satu kuliner Indonesia  yang sangat populer dan banyak digemari hingga Presiden Obama menyukai akan panganan khas Madura ini selain kuliner khas Indonesia lainnya.
Deretan beberapa pedagang berbagai makanan seperti soto, pecel, nasi uduk, ketoprak dan sate tentunya. selain ada juga makanan seperti gorengan, tabul, dll.
Pedagang sate sedang asik membakar satenya.
Cukup ramai, tak jarang seperti pekerja dan mahasiswa seperti dalam gambar.
Saya akan menggoda pembaca dengan sate, rezeki yang dianugerahkan sya hari ini untuk dinikmati. Kota Jakarta ini, ibu kota Indonesia sebetulnya. Tapi sisi lain, dia adalah kota metropolis dengan hegemoni yang terkadang menjadikan identitas bangsa semakin berkurang. Beruntung di Jakarta, saya bisa menemukan kuliner tradisional hingga angkringan nasi kucing khas jogja ini bisa saya temui.
Tahukah ini? Betul...Lontong

Lontong bagi saya pendamping cocok sate. Ada dua pilihan, mau sate dengan lontong atau nasi. soal harga, satu porsi ini Rp 10000, pas (10 tusuk sate ayam,+1 lontong). Murahlah itungan di kota Jakarta mah, hehe.
Apa yang saya temui hari ini mulai dari makan siang di warteg, warung angkringan, sate madura adalah hal yang bisa menandai ke-Indonesian dari sebuah kuliner, sebuah warisan nusantara aseli bangsa Indonesia. Jakarta punya satu serangan dahsyat, anda mungkin bisa melihat   dan merasakan restoran junk food dengan brand ternama hampir berdiri elegan ditiap sudut ibu kota. Belum lagi tempat tongkrongan, Café  yang tengah menjamur dengan segala tampilan dan hal yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi nilai kebanggaan.

Jakarta kian tumbuh, ramai dan apapun ada. Sambil jalan kaki saya mengambil gambar sudut kota yang entah apakah masih ada identitas bangsanya.

Saya sendiri dengan jujur sering berada didalamnya. Maka saya katakan, bahwa mereka, produk luar ini membuat semakin bagaimana kita lebih menikmati produk hingga style ala mereka dan untuk kembali pada nilai tradisi bangsa sendiri, akan menjadi dianggap kemunduran.
Saya bersyukur pada sang maha pemberi rezeki, Allah Swt  yang telah menganugerkahkan makanan dan minuman.  Kenyang dan nikmat sekali, maaf tidak dibagi ya, hehee.
Selain nikmat-nikmat itu, nilai inspirasinya bagaimana ternyata di kota saya ini masih menikmati  kelezatan, kekhasan dan warisan bangsa sendiri. Ketika nasionalisme digaungkan rasanya bagi saya, hal yang paling sederhana untuk itu bagaimana kita menjadi bagian dari penikmat, pengguna, konsumen untuk hasil /produk kuliner yang sangat Indonesia sekali, produk  bangsa kita sendiri. Sebuah warisan berharga milik bangsa Indonesia.

Barangkali baru kali ini saya posting tentang makanan, karena saya sedang  menumbuhkan nasionalisme dimulai dari kuliner yang paling Indonesia.

Semangat Revolusi Galau

Minggu, 24 Juni 2012

20 Harian, Tak Ada Sesuatu dan Hanya Ini

Maksud judul diatas apa? ya itulah saya pun bingung,heee. Maksud saya kurang lebih sekitar 20 harian tak ada postingan di blog ini. Kenapanya, saya tak mau ngasih alasan klise . Kali ini pun tak ada yang penting untuk di publish di blog sederhana ini.

Tapi sebagai blog yang saya buat tidak hanya untuk catatan pribadi tapi juga blog yang bicara tentang urban, perkotaan seperti serial PPD 213 yang telah saya publish beberapa edisi.

kali ini serial ruang kota kini saya hanya akan bicara  sederhana saya melalui foto, dari device android ini. Semoga gambar yang buruk namun bisa mewakili inti cerita saya, untuk serial ruang kota.




Suasana saat sholat jumat di bawah kolong jembatan Slipi Jaya



Gambar-gambar diatas saya ambil sendiri. ke 2 foto diatas adalah situasi sholat Jumat di salah satu tempat sholat dimana itu berada dibawah kolong fly over. Saya salut dengan salah satu ormas betawi yang memberdayakan lahan dibawah fly over ini untuk tempat sholat dan sebagian untuk kawasan tempat makan biasa saya dan ratusan  karyawan dari beberapa gedung sekitar.


suatu saat nanti saya akan ulas, bagaimana kolong fly over ini  disulap sebegitu rupa dan dijadkan zona foodcourt dan tempat ibadah.




Suasana saat Solat Jumat di parkiran gedung salah satu hotel di kawasan Slipi Jaya  











2 Foto diatas ini juga sama,  suasana saat sholat jum'at di samping gedung perkantoran tempat saya bekerja.  foto ini baru diambil jumat kemarin, tempat ini sehari-harinya merupakan parkir mobil dan letaknya di basement hotel. bisa dilihat foto di paling bawah, terdapat mobil terparkir, bahkan pernah suatu kali saya sholat di jajaran belakang dan didepan saya ada satu mobil terparkir.

Pengalaman sperti ini saya rasakan di kota metropolitan Jakarta ini. Di kampung, saya hanya merasakan seperti ini jika saat shlat Idul Fitri saja.

Kota ini begitu mahal memang, dan sangat mahal. Ruang berbentu apapun, sekecil apapun dan kondisi apapun  seperti kolong jembatan, parkiran, atau ruang apapun  dapat sangat bermanfaat, tidak hanya urusan duniawi tapi urusan ukhrowi sekalipun.

Yahhh..itulah

Semangat Revolusi Galau 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...